Pangandaran, analisaglobal.com – Bulan suci Ramadan yang selama ini dikenal sebagai momentum pembentukan karakter dan penguatan nilai spiritual, kini dinilai menghadapi tantangan serius. Fenomena remaja yang lebih sibuk dengan gawai dibandingkan mengaji, serta lebih memilih nongkrong hingga larut malam ketimbang menunaikan salat tarawih, menjadi sorotan tajam pimpinan Pondok Pesantren Riyadussalikin.
Pengasuh pesantren, KH Luthfi Fauzi, mengungkapkan keprihatinannya atas perubahan pola perilaku generasi muda setiap Ramadan tiba. Ia menilai, esensi Ramadan sebagai “madrasah akhlak” perlahan tergerus oleh distraksi digital.
“Ramadan itu madrasah akhlak. Tapi sekarang, tantangannya luar biasa. Anak-anak lebih akrab dengan layar daripada lembaran Al-Qur’an,” ujarnya saat ditemui di lingkungan pesantren.
Menurutnya, perubahan tersebut bukan sekadar asumsi. Ia melihat langsung pergeseran kebiasaan pada santri-santri baru yang masuk ke pesantren. Jika dulu suara tadarus menggema dari surau hingga pelosok kampung dan remaja berlomba memenuhi saf tarawih, kini suasana itu tak lagi semarak seperti sebelumnya.
“Teknologi bukan musuh. Ia hanya alat. Tapi kalau tidak dikendalikan, justru bisa menggerus ruh Ramadan,” tegasnya. Senin (23/02/2026).
KH Luthfi juga menyoroti tren menjadikan Ramadan sebagai konten media sosial. Aktivitas ngabuburit dan buka bersama lebih sering dipertontonkan daripada dimaknai secara mendalam.
Baca Juga Polsek Ciamis Turun Langsung Tangani Longsor di Mangkubumi – Sadananya
“Puasa bukan sekadar konten. Ada nilai sabar, pengendalian diri, dan kejujuran yang harus ditanamkan. Kalau Ramadan hanya jadi seremoni, kita kehilangan substansinya,” katanya.
Meski demikian, ia menolak menyebut kondisi ini sebagai kegagalan generasi muda. Menurutnya, yang terjadi adalah krisis perhatian dan keteladanan dari lingkungan sekitar, termasuk keluarga.
“Remaja hari ini hidup di zaman yang berbeda. Tekanannya beda, tantangannya beda. Tugas kita bukan menghakimi, tapi membimbing,” jelasnya.
Di lingkungan pesantren, pembinaan selama Ramadan diperketat. Selain tadarus dan kajian kitab, santri juga dibekali pemahaman etika bermedia sosial agar nilai-nilai Ramadan tidak berhenti pada ritual, tetapi tercermin dalam perilaku sehari-hari.
Ia juga menyinggung fenomena berkurangnya minat remaja mengikuti salat tarawih di masjid. Jika dulu halaman masjid penuh hingga meluber, kini mulai terlihat renggang. Faktor gaya hidup, perubahan pola aktivitas malam, hingga minimnya keteladanan orang tua disebut menjadi penyebab.
“Kalau orang tua tidak ke masjid, sulit berharap anaknya rajin tarawih. Keteladanan itu kunci,” ujarnya.
Namun di tengah keprihatinan tersebut, KH Luthfi tetap optimistis. Setiap Ramadan selalu ada remaja yang menemukan titik balik dalam hidupnya. Ada yang mulai meninggalkan kebiasaan buruk, ada pula yang mulai istiqamah dalam ibadah.
“Kalau setelah Ramadan akhlaknya tidak berubah, berarti ada yang salah dalam prosesnya. Ramadan adalah momentum revolusi diri,” tandasnya.
Pernyataan ini menjadi alarm bagi masyarakat Pangandaran. Ramadan bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi kesempatan membangun karakter di tengah arus budaya instan dan hiburan tanpa batas.
Kini pertanyaannya: apakah Ramadan masih menjadi madrasah akhlak, atau hanya tinggal seremoni tahunan? Waktu yang akan menjawab. (driez)
Baca Juga Jalan Cimaragas–Cidolog Amblas 60 Meter, Polisi Tutup Total Akses
Analisa Global Cepat, Aktual dan Berimbang