Fokus Tekan Stunting, SPPG Nusantara Sadananya Prioritaskan Layanan untuk Ibu Hamil, Menyusui dan Balita

Kabupaten Ciamis, analisaglobal.com — Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Nusantara Sadananya mulai mengarahkan fokus pelayanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kepada kelompok penerima manfaat prioritas, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (B3), sejalan dengan kebijakan terbaru dari Badan Gizi Nasional (BGN).

Kepala SPPG Nusantara Sadananya, Febi Adrian, mengatakan kebijakan baru tersebut mewajibkan setiap SPPG melayani sedikitnya 300 penerima manfaat dari kategori B3. Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mempercepat penurunan angka stunting serta meningkatkan pemenuhan kebutuhan gizi sejak masa kehamilan hingga usia balita.

“Fokus utama pelayanan MBG saat ini diarahkan kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Setiap SPPG minimal harus melayani 300 penerima manfaat dari kelompok tersebut karena menjadi prioritas utama dalam kebijakan terbaru,” ujar Febi. Kamis, 11/6/2026

Menurutnya, penerapan kebijakan tersebut juga diikuti dengan penyesuaian menu berdasarkan kelompok usia dan kebutuhan gizi masing-masing penerima manfaat. Khusus balita usia 6 hingga 12 bulan, menu yang diberikan tidak dapat disamakan dengan kelompok penerima manfaat lainnya.

“Untuk balita 6-12 bulan, kami menyiapkan menu khusus dengan tekstur yang lebih lembut seperti bubur bayi dan makanan pendamping ASI (MPASI). Penyusunan menu dilakukan dengan berkonsultasi bersama dinas kesehatan agar sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembang anak,” jelasnya.

Baca Juga Dishub Ciamis Siapkan Rekayasa Lalu Lintas untuk Karnaval Hari Jadi Ciamis, Penutupan Bersifat Situasional

Selain itu, BGN juga mengeluarkan aturan baru terkait penggunaan susu dalam program MBG. Saat ini, susu yang digunakan tidak diperbolehkan mengandung perasa maupun pewarna tambahan dan harus menggunakan susu murni dengan kandungan susu minimal 20 persen.

Febi menegaskan bahwa keberadaan chef atau tenaga pengolah makanan yang memiliki sertifikasi dan pengalaman menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan program. Mereka dituntut mampu menghadirkan variasi menu yang sesuai dengan karakteristik setiap kelompok penerima manfaat.

“Chef di SPPG harus mampu menciptakan menu yang bervariasi dan berbeda sesuai kategori penerima manfaat. Itu menjadi salah satu tujuan utama BGN dalam mewajibkan keberadaan tenaga yang kompeten di setiap SPPG,” katanya.

Meski demikian, tantangan tetap ada, terutama dalam menjaga variasi menu di tengah tingginya jumlah penerima manfaat. Menurut Febi, kestabilan pelayanan dan proses produksi akan lebih optimal apabila jumlah penerima manfaat berada pada kisaran 2.500 hingga 3.000 orang.

“Dengan jumlah penerima manfaat yang stabil, manajemen waktu produksi dan penyajian berbagai jenis menu dapat berjalan lebih efektif,” ungkapnya.

Ia berharap berbagai evaluasi dan perbaikan yang terus dilakukan dapat memperkuat komitmen seluruh SPPG dalam menyediakan layanan gizi yang berkualitas bagi masyarakat, khususnya generasi penerus bangsa menuju Indonesia Emas 2045.

“Harapan kami, seluruh SPPG terus konsisten memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan mendukung terwujudnya generasi yang sehat, cerdas, dan bebas stunting,” pungkasnya. (Dods)

Baca Juga Kapolres Ciamis: JSE 2026 Perkuat Sinergi Pers dan Polri Jaga Kondusivitas Daerah Menulis

About analisaglobal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!