Pangandaran, analisaglobal.com — Pemerintah Kabupaten Pangandaran menyampaikan Laporan Realisasi Anggaran (LRA) Semester I Tahun Anggaran 2026 untuk periode 1 Januari sampai dengan 30 Juni 2026.
Berdasarkan LRA Semester I APBD Kabupaten Pangandaran 2026, pendapatan daerah ditetapkan sebesar Rp 1,167 triliun. Hingga 30 Juni 2026, realisasi pendapatan telah mencapai Rp 604,55 miliar atau 51,76 % dari target anggaran.
PAD Kabupaten Pangandaran pada tahun anggaran 2026 dianggarkan sebesar Rp 324,12 miliar. Sampai dengan akhir Juni, realisasinya mencapai sekitar Rp 169,70 miliar atau 52,35 %.
Sementara itu, pendapatan transfer menjadi komponen terbesar pendapatan daerah. Dari target sekitar Rp 843,71 miliar, realisasinya hingga Semester I mencapai Rp 434,85 miliar atau 51,53 %.
Realisasi pajak daerah tercatat sekitar Rp 58,36 miliar atau 43,42 % dari target Rp 134,41 miliar.
Untuk retribusi daerah, realisasi mencapai sekitar Rp 102,63 miliar atau 55,19 % dari target Rp 185,96 miliar.
Baca Juga Chef Rocky: Dapur MBG Tak Cukup Hanya Bisa Memasak
Adapun hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan terealisasi sekitar Rp 227,26 juta, sedangkan lain-lain PAD yang sah mencapai sekitar Rp 8,48 miliar.
Belanja Daerah Terealisasi Rp 522,22 Miliar
Di sisi belanja, Pemerintah Kabupaten Pangandaran mengalokasikan anggaran sebesar sekitar Rp 1,207 triliun pada tahun 2026. Sampai dengan 30 Juni 2026, realisasi belanja mencapai Rp 522,22 miliar atau 43,25% dari pagu anggaran.
Realisasi tersebut terdiri atas beberapa kelompok belanja. Belanja operasi menjadi komponen terbesar dengan pagu sekitar Rp 919,47 miliar dan realisasi sekitar Rp 448,61 miliar atau 48,78%. Belanja operasi mencakup belanja pegawai, barang dan jasa, bunga, hibah, serta bantuan sosial.
Belanja pegawai terealisasi sekitar Rp 248,31 miliar atau 51,74% dari pagu Rp 479,83 miliar.
Sementara belanja barang dan jasa terealisasi sekitar Rp 189,72 miliar atau 45,54% dari pagu Rp 415,38 miliar.
Untuk belanja modal, pemerintah daerah menganggarkan sekitar Rp 108,24 miliar.
Sampai Semester I, realisasinya baru sekitar Rp 23,05 miliar atau 21,29%.
Sementara itu, belanja tidak terduga terealisasi sekitar Rp 2,31 miliar atau 48,36% dari pagu Rp 4,79 miliar.
Belanja transfer yang dianggarkan sekitar Rp 174,71 miliar telah terealisasi sekitar Rp 48,25 miliar atau 27,61%.
Dalam APBD 2026, pemerintah daerah menganggarkan defisit sekitar Rp 39,36 miliar. Namun, berdasarkan realisasi sampai 30 Juni 2026, posisi keuangan justru menunjukkan surplus sekitar Rp 82,33 miliar.
Surplus tersebut terjadi karena realisasi pendapatan daerah sebesar Rp 604,55 miliar masih lebih tinggi dibandingkan realisasi belanja daerah sebesar Rp 522,22 miliar.
Dengan demikian, terdapat selisih positif sekitar Rp 82,33 miliar antara pendapatan dan belanja pada Semester I.
Pembiayaan dan Sisa Lebih Anggaran
Dari sisi pembiayaan, penerimaan pembiayaan yang dianggarkan sebesar sekitar Rp 70,56 miliar, sampai Semester I terealisasi sekitar Rp 15,30 miliar atau 21,68%.
Pengeluaran pembiayaan dianggarkan sebesar Rp 31,20 miliar, dengan realisasi mencapai Rp 15,60 miliar atau 50%.
Secara keseluruhan, realisasi pembiayaan neto tercatat sekitar minus Rp 300,66 juta. Laporan mencatat Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) sekitar Rp 82,03 miliar pada Semester I 2026.
Pada saat yang sama, realisasi belanja yang berada pada level 43,25% menunjukkan masih terdapat ruang penyerapan anggaran yang cukup besar pada enam bulan berikutnya.
Belanja modal yang baru terealisasi 21,29%, diperlukan percepatan pelaksanaan kegiatan.
Capaian positif berupa surplus Semester I perlu diikuti dengan pengelolaan anggaran yang semakin efektif pada Semester II. (driez)
Baca Juga Sespimmen Polri Dukung Ketahanan Pangan Pangandaran
Analisa Global Cepat, Aktual dan Berimbang