Kabupaten Ciamis, analisaglobal.com — Suasana rumah yang tadinya tenang mendadak riuh. Adu mulut, rebutan mainan, tarik-menarik barang, saling dorong, bahkan kadang berujung pukulan. Pemandangan seperti ini sering membuat orang tua atau pendidik merasa kesal, malu, bahkan gagal, lalu buru-buru memberi cap pada anak: “nakal.”
Padahal, sebelum memarahi atau meninggikan suara, ada baiknya kita berhenti sejenak dan memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam diri mereka.
Mengapa Anak Sering Bertengkar?
Berbagai riset perkembangan anak menunjukkan bahwa bagian otak yang disebut prefrontal cortex—yakni pusat pengendali emosi, logika, dan kemampuan menahan diri—belum berkembang sempurna pada anak-anak.
Sementara itu, amigdala, bagian otak yang mengatur emosi dan respons naluriah seperti “melawan atau lari” (fight or flight), justru sudah aktif lebih dahulu.
Artinya, ketika anak merasa marah, kecewa, atau terancam, respons emosinya sering kali muncul lebih cepat dibanding kemampuan berpikir tenang.
Dalam kajian psikologi perkembangan, kemampuan bahasa dan ekspresi emosi pada sebagian anak juga masih terus bertumbuh. Akibatnya, mereka sering belum mampu menjelaskan perasaan dengan kata-kata. Ketika kesal, tubuh bergerak lebih cepat daripada mulut berbicara.
Bagi sebagian anak, terutama yang aktif secara fisik, dorongan bergerak dan energi besar membuat interaksi kasar seperti dorong-dorongan atau berebut kadang dianggap bagian dari bermain. Namun karena kontrol emosi belum matang, situasi itu bisa cepat berubah menjadi pertengkaran sungguhan.
Jadi, yang terlihat sebagai “kenakalan” sering kali sebenarnya adalah cara komunikasi yang belum terampil dari seorang anak yang masih belajar memahami dunia.
Lalu, Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua?
Pertengkaran anak bukan sekadar masalah, tetapi juga kesempatan belajar. Berikut beberapa cara bijak menghadapinya:
1. Gunakan Teknik Time-In, Bukan Time-Out
Alih-alih langsung mengisolasi anak, dampingi mereka saat sedang marah. Duduk di dekatnya, tenangkan dengan suara lembut. Kehadiran orang dewasa membantu sistem saraf anak kembali stabil.
Baca Juga Dinsos Ciamis Turun Tangan: Siswi Korban Bullying Alami Depresi, Bantuan dan Pendampingan Diberikan
2. Validasi Perasaan, Baru Beri Arahan
Saat emosi sedang memuncak, anak sulit menerima nasihat. Akui dulu perasaannya, lalu jelaskan batasannya.
Contoh:
“Ibu tahu kamu marah karena mainanmu diambil. Marah itu boleh, tapi memukul tidak boleh.”
3. Ajarkan Bahasa Konflik
Sering kali anak bertengkar karena tidak tahu harus berkata apa. Ajarkan kalimat sederhana seperti:
“Aku belum selesai main.”
“Boleh pinjam nanti setelah aku selesai?”
“Aku juga mau ikut main.”
4. Ajak Mencari Solusi Bersama
Jangan selalu menjadi hakim yang memutuskan segalanya. Tanyakan:
“Menurut kalian, bagaimana supaya sama-sama senang?”
Dengan begitu, anak belajar negosiasi dan tanggung jawab.
5. Tanamkan Empati
Setelah suasana tenang, bantu anak memahami dampak perilakunya.
Contoh:
“Menurutmu bagaimana perasaan temanmu tadi saat didorong?”
Pertanyaan seperti ini melatih kepekaan terhadap perasaan orang lain.
Anak Bertengkar Bukan Berarti Gagal Dididik
Pertengkaran anak bukan tanda kegagalan orang tua atau guru. Justru di situlah anak sedang belajar tentang batasan, keadilan, emosi, meminta maaf, dan berdamai.
Tanpa konflik kecil, mereka tidak akan pernah belajar menyelesaikan masalah besar.
Jadi, lain kali saat si kecil ribut dengan temannya, jangan buru-buru menyebutnya “nakal”. Bisa jadi, ia hanya sedang tumbuh.
Dibuat Oleh : Tuti Sumiati
Mahasiswi : STAI Putra Galuh Ciami
Baca Juga Longsor Tutup Akses Utama di Cisaga, Polisi Gerak Cepat Pastikan Situasi Terkendali
Analisa Global Cepat, Aktual dan Berimbang