Kabupaten Ciamis, analisaglobal.com — “Kenapa anak menangis saat ditinggal di PAUD? Apakah itu tanda anak bermasalah?”
“Hari pertama sekolah penuh tangisan, wajar atau perlu dikhawatirkan?”
Setiap pagi, tangisan kecil kerap terdengar di depan pintu PAUD. Ada anak yang memeluk erat ibunya, menolak berpisah, bahkan berusaha kembali pulang. Pemandangan seperti ini bukan hal langka, justru sangat umum terjadi pada masa awal sekolah.
Bagi sebagian orang tua, momen tersebut sering memunculkan rasa cemas. Tidak sedikit yang mulai bertanya, “Kenapa anak saya tidak seperti anak lain yang langsung berani masuk kelas?” Padahal, setiap anak memiliki cara dan waktu adaptasi yang berbeda. Tidak semua anak bisa merasa nyaman dalam waktu singkat, dan itu sepenuhnya wajar.
Sebut saja A, anak berusia 4 tahun yang setiap pagi selalu menangis saat ibunya hendak pulang. Ia menolak masuk kelas dan tampak cemas ketika berada di lingkungan baru. Kondisi ini tidak hanya berlangsung satu atau dua hari, tetapi lebih dari dua minggu. Saat teman-temannya mulai nyaman bermain, A masih berusaha menyesuaikan diri dengan situasi yang baginya terasa asing.
Fenomena seperti ini sering terjadi di PAUD. Pada usia dini, anak memiliki keterikatan emosional yang sangat kuat dengan orang tua, terutama ibu atau pengasuh utama. Ketika harus berpisah, mereka dapat merasa kehilangan rasa aman.
Mengapa Anak Menangis Saat di PAUD?
Beberapa faktor yang sering memengaruhi antara lain:
Anak belum terbiasa berpisah dari orang tua
Waktu bersama keluarga di rumah masih sangat dominan
Lingkungan sekolah masih terasa asing
Anak belum memiliki kedekatan dengan guru dan teman
Anak masih belajar memahami rutinitas baru
Penting dipahami, kondisi ini bukan berarti anak manja atau lemah. Justru, anak sedang menjalani proses belajar untuk mandiri dan mengenal dunia di luar rumah.
Baca Juga Longsor Tutup Akses Utama di Cisaga, Polisi Gerak Cepat Pastikan Situasi Terkendali
Peran Orang Tua dan Guru Sangat Penting
Dalam masa adaptasi, dukungan orang dewasa menjadi kunci utama. Pendekatan yang tepat akan membantu anak melewati fase ini dengan lebih nyaman.
Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan:
1. Bangun rutinitas yang konsisten
Anak akan merasa lebih aman jika memiliki pola yang sama setiap hari, mulai dari bangun pagi, berangkat sekolah, hingga waktu dijemput.
2. Berpamitan singkat namun hangat
Perpisahan yang terlalu lama justru bisa memperkuat kecemasan anak. Cukup dengan pelukan dan kalimat sederhana seperti, “Nanti mama jemput lagi, ya.”
3. Guru menyambut dengan ramah
Senyuman, sapaan hangat, dan perhatian kecil dari guru dapat membantu anak merasa diterima.
4. Libatkan anak dalam kegiatan bermain
Bermain adalah cara utama anak belajar. Saat mulai menikmati aktivitas, rasa cemas biasanya perlahan berkurang.
Adaptasi Butuh Waktu, Bukan Paksaan
Pada kasus A, perubahan mulai terlihat setelah beberapa minggu. Tangisannya perlahan berkurang. Ia mulai mau masuk kelas, duduk bersama teman-temannya, lalu ikut bermain.
Hal ini menunjukkan bahwa setiap anak berkembang dengan ritme yang berbeda. Tidak ada standar waktu yang sama bagi semua anak.
Karena itu, ada beberapa hal penting yang perlu diingat:
Jangan membandingkan anak dengan anak lain
Menangis di awal sekolah adalah hal wajar
Anak membutuhkan proses, bukan tekanan
Kerja sama orang tua dan guru sangat menentukan
Tangisan yang Menyimpan Proses Besar
Tangisan anak di PAUD bukan sekadar reaksi sesaat. Di balik air mata itu, ada proses besar yang sedang berlangsung: anak belajar mandiri, membangun rasa percaya, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.
Tugas orang dewasa bukan mempercepat proses tersebut, melainkan mendampingi dengan sabar, tenang, dan konsisten. Sebab dari langkah kecil hari ini, anak sedang membangun fondasi penting untuk menghadapi dunia yang lebih luas di masa depan.
Oleh : Risa Ristiani
Mahasiswi S1 PAUD
Baca Juga Jagoan Kecil Sering Bertengkar? Jangan Buru-buru Melabeli “Nakal”, Ini Penjelasan Psikologisnya
Analisa Global Cepat, Aktual dan Berimbang