Kabupaten Ciamis, analisaglobal.com — Pengelolaan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak boleh sekadar mengandalkan kemampuan memasak. Kompetensi tenaga pengolah makanan, standar pengolahan pangan, kebersihan, hingga keamanan makanan harus menjadi prioritas utama.
Ketua Indonesia Chef Association (ICA), Rocky, menegaskan seluruh dapur MBG harus serius membangun profesionalisme tenaga pengolah makanan. Menurutnya, kualitas makanan yang diterima masyarakat sangat ditentukan oleh kemampuan dan standar kerja orang-orang yang berada di balik dapur.
Hal itu disampaikan Rocky saat mengapresiasi pelatihan peningkatan kompetensi yang diikuti 50 juru masak dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) se-Kabupaten Ciamis, Kamis (13/8/2026).
Pelatihan yang digelar Pemerintah Kabupaten Ciamis melalui Dinas Ketenagakerjaan tersebut dinilai menjadi langkah konkret untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia pengelola dapur MBG.
“Bagus sekali. Pelatihan selama tujuh hari ini merupakan langkah yang baik untuk meningkatkan kompetensi para juru masak,” ujar Rocky.
Ia menegaskan, dapur MBG memiliki tanggung jawab besar karena mengolah dan menyediakan makanan dalam jumlah banyak untuk penerima manfaat. Karena itu, tenaga pengolah makanan tidak cukup hanya memiliki kemampuan memasak.
“Juru masak tidak cukup hanya bisa memasak. Mereka harus memahami standar pengolahan pangan, kebersihan, keamanan makanan, dan kualitas makanan,” tegasnya.
Rocky juga mendorong agar setiap dapur MBG memiliki tenaga chef profesional yang telah tersertifikasi. Menurutnya, keberadaan tenaga profesional akan memperkuat standar pengolahan sekaligus memastikan proses produksi makanan berjalan sesuai ketentuan.
“Kalau seluruh dapur MBG memiliki chef profesional yang tersertifikasi, tentu jauh lebih bagus. Ditambah Dinas Ketenagakerjaan mendukung program ini dengan pelatihan gratis. Ini luar biasa,” katanya.
Ia menekankan, peningkatan kompetensi tidak boleh hanya dilakukan oleh sebagian pengelola dapur. Seluruh dapur MBG harus memiliki pemahaman dan standar yang sama.
“Jangan hanya satu atau dua mitra atau satu atau dua yayasan. Keseluruhan dapur MBG harus melek akan pentingnya pengolahan pangan,” tegas Rocky.
Menurutnya, pelatihan tidak boleh berhenti pada pemberian materi. Pengetahuan yang diperoleh para juru masak harus benar-benar diterapkan dalam aktivitas dapur sehari-hari, mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan, kebersihan peralatan dan lingkungan dapur, hingga makanan siap disajikan kepada penerima manfaat.
“Harapannya, bukan hanya dapur MBG. Dapur-dapur lainnya juga harus semakin memahami pentingnya pengolahan pangan secara profesional,” ujarnya.
Rocky menilai profesionalisme tenaga pengolah makanan akan berpengaruh langsung terhadap kualitas dan keamanan makanan yang dikonsumsi masyarakat.
Karena itu, ia mendorong seluruh pengelola dapur MBG menjadikan kompetensi dan standar pengolahan pangan sebagai kebutuhan utama, bukan sekadar pelengkap.
Dengan penguatan kompetensi tersebut, dapur MBG di Kabupaten Ciamis diharapkan tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan makanan penerima manfaat, tetapi juga mampu menjamin makanan yang dihasilkan aman, higienis, berkualitas, dan diolah dengan standar profesional. (Dods)
Analisa Global Cepat, Aktual dan Berimbang