Diduga Aniaya 2 Orang Santri, Oknum Guru Ponpes Di Cianjur Dilaporkan Ke Polisi

Selamat pagi /siang/sore/malam pembaca setia analisaglobal.com, semoga semua pembaca dalam keadaan sehat, penuh kebahagiaan, dan bersemangat dalam beraktifitas serta sehat selalu.

Jangan lupa ya tetap pakai masker saat bepergian, rutin mencuci tangan dan menjaga jarak karena Pandemi Covid-19 belum berakhir. Berikut kami sajikan berita terpopuler di analisaglobal.com

Kabupaten Cianjur, analisaglobal.com — Dua orang santri di aniaya oleh oknum guru Pondok Pesantren di Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Penganiayaan dilakukan dengan seutas kabel listrik karena dua orang santri melakukan kesalahan keluar pondok tanpa izin.

Kapolres Cianjur AKBP Mochamad Rifai di Cianjur, Selasa, (09/03/2021) mengatakan, pihaknya telah mendapat laporan dari kedua orang tua santri yang mengalami luka lebam di sekujur tubuhnya mulai dari bagian kaki, tangan, hingga punggungnya karena dipukul menggunakan seutas kabel.

“Kami masih mendalami dan segera melakukan penyelidikan karena luka yang diderita cukup parah. Saat ini laporan korban sudah kami terima dan segera ditindaklanjuti,” katanya dikutip dari antaranews.

Sebelumnya orang tua korban, Adis Abeda (49), dengan korban atas nama Heru (12), mendapat kabar bahwa anaknya kabur dari ponpes dan berusaha mencari. Saat ditemui di rumah warga yang menyelamatkan Heru di Kecamatan Cipanas, menyebutkan kalau dia melarikan diri dari pondok karena mengalami penyiksaan.

Bahkan Adis sendiri sempat geram ketika melihat tubuh anaknya penuh luka lebam mulai dari tangan, kaki hingga punggung akibat disiksa oknum guru, sehingga dia langsung melaporkan hal tersebut ke Mapolres Cianjur.

Adis mengatakan , dengan menitipkan anak ke pondok untuk mendapatkan pendidikan agama bukan untuk disiksa.

“Saya melaporkan ini, agar ada efek jera dan tidak ada lagi santri yang mendapat penyiksaan seperti ini. Kalau memang melanggar seharusnya tidak dihukum seperti ini, saya yang melahirkannya tidak pernah memberi pelajaran ke anak dengan main tangan,” katanya.

Sementara Heru, korban penyiksaan oknum guru itu mengatakan, dia dan temannya dipanggil oknum guru karena diduga melakukan kesalahan keluar pondok untuk berbelanja keperluan ke toko swalayan, namun dirinya tidak ikut hanya mengetahui temannya keluar pondok.

“Saya tidak tahu, kalau saya berbuat salah, tapi kami dipanggil oknum guru untuk menghadap. Ketika berhadapan kami mendapat pukulan di tangan, kaki dan punggung, kami dipukul menggunakan seutas kabel lsitrik,” katanya. ***UBH

About analisaglobal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!