Kabupaten Tasikmalaya, analisaglobal.com,- Upacara memperingati detik-detik proklamasi HUT ke 76 Kemerdekaan Republik Indonesia, tampak berbeda dari biasanya, yang mana kali ini warga Desa Mandalamekar, Kecamatan Jatiwaras Kabupaten Tasikmalaya Melaksanakannya di bantaran sungai ciwulan dan bendera yang dikibarkanya terbilang bendera raksasa yang di topang oleh 10 rakit dan 20 personil. Sehingga momentum ini selain menjadi hari yang dianggap sakral. Karena bangsa Indonesia sudah menginjak 76 tahun merdeka dari penjajahan, juga menjadi tontonan yang menarik bahkan tidak sedikit masyarakat yang berdecak kagum ketika melihat arak arakan rakit yang menopang bendera raksasa tersebut.

Sebagaimana ungkapan salah satu warga yang hadir dan mengikuti prosesi upacara jamaludin (68), Ini merupakan upacara yang selain unik juga menarik, karena baru kali ini ada acara pembentangan bendera ageung pisan (sangat besar) di ciwulan, yang tentunya dalam proses pembentanganya penuh dengan tantangan dan resiko. Karena selain harus melawan arus air juga melawan hembusan angin yang kencang. Saya bersyukur sekali bisa mengikuti upacara ini kacida bungah (sangat gembira). ungkapnya.

Sementara itu ketika disinggung terkait kegiatan upacara 17 Agustus yang dilaksanakan di sungai Ciwulan, kepala Desa. Mandalamekar Alfie Ahmad Sa’dan Hariri, SE., SH., MH. Memaparkan alasannya, yakni untuk mengimbangi kejenuhan masyarakat yang sudah dua tahun ini di suguhi berita-berita buruk yang menegangkan bahkan cenderung sifatnya menakutkan warga terkait wabah covid-19, maka kami bersama panitia PHBN HUT RI ke 76 membuat sebuah kegiatan hiburan warga dalam bentuk olahraga dan edukasi masyarakat yang interludenya pengibaran sang saka merah putih di sungai ciwulan. paparnya.

Lanjut Alfie, Ada dua bendera yang kami bentangkan, satu yang berukuran 76 meter kali 76 centimeter lalu yang kedua bendera merah putih yang berukuran 17 meter kali 8 meter. Hal ini kami lakukan untuk mensiasati expresi rasa nasionalisme kami warga Desa Mandalamekar yang ingin tetap mengadakan upacara walaupun dimasa pandemi seperti sekarang ini. Selanjutnya upacara 17 Agustus kali ini kami mengusung tema lestarikan alam, yang mana kami selalu dan terus continue menghimbau pada siapapun jangan buang sampah sembarangan, “Lamun nyaah ka anak incu ulah miceun runtah ka ciwulan” (Kalau sayang pada anak cucu, jangan buang sampah ke sungai Ciwulan). ungkap Alfie.

Semoga dapat merangsang warga Mandalamekar dan sekitarnya akan rasa cinta kepada tanah tumpah darah bangsa indonesia dan mudah-mudahan dapat menambah menguatkan imun warga.” pungkasnya.

Jurnalis : Day

Leave a Reply