Kabupaten Ciamis, analisaglobal.com — Semangat melestarikan bahasa dan budaya Sunda terlihat di Kecamatan Panumbangan, Kabupaten Ciamis, Senin (24/8/2026). Puluhan pelajar mengikuti Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) sebagai bagian dari upaya menanamkan kecintaan terhadap Basa Sunda sejak usia dini.
Kegiatan tersebut mengusung tema “Ngamumule Basa Sunda, Ngajaga Warisan Luhur Nu Jadi Jati Diri Bangsa”. Festival ini tidak hanya menjadi ajang perlombaan bagi para pelajar, tetapi juga menjadi ruang edukasi untuk memperkuat identitas budaya di tengah perkembangan zaman.
Beragam cabang perlombaan digelar dalam FTBI, di antaranya Nembang Pupuh, Nulis Aksara Sunda, Ngadongeng, Borangan/Maca Sajarah, Biantara, serta Nulis Carpon. Setiap cabang dirancang untuk mengasah kemampuan siswa sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap bahasa dan kebudayaan daerah.
Suasana kegiatan berlangsung meriah namun tetap tertib. Para peserta tampak antusias mengikuti setiap rangkaian acara. Piala dan penghargaan yang telah disiapkan menjadi salah satu pemacu semangat para siswa untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya.
Baca Juga Gerak Jalan Santai Meriah, Warga Perum Pesona Imbanagara Raya Perkuat Kekompakan
Panitia Penyelenggara Mustafa Kurnia dalam wawancaranya menekankan bahwa bahasa ibu memiliki peran penting dalam membentuk jati diri. Bahasa tidak sekadar menjadi alat komunikasi, tetapi juga menjadi bagian dari identitas, nilai, tradisi, serta cara pandang masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Melalui FTBI, para pelajar diharapkan tidak hanya mampu menggunakan Basa Sunda dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga memiliki kesadaran untuk menjaga keberlangsungannya,” ujarnya.
Festival Tunas Bahasa Ibu dinilai memiliki makna yang lebih luas dibandingkan sekadar kegiatan tahunan. Pelibatan anak-anak dan pelajar sebagai pelaku utama menjadi langkah strategis agar pelestarian bahasa daerah tidak berhenti pada generasi saat ini.
Di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang semakin pesat, bahasa daerah menghadapi tantangan untuk tetap digunakan dan dikenal oleh generasi muda. Karena itu, kegiatan di tingkat sekolah dan masyarakat dinilai menjadi fondasi penting dalam menjaga eksistensi bahasa daerah. (Roni)
Analisa Global Cepat, Aktual dan Berimbang