Kabupaten Tasikmalaya, analisaglobal.com – Dalam upaya menyatukan visi dan misi untuk melestarikan budaya Seni Domba Garut bagi para peternak. Forum Silaturahmi (FORSIL) ulama dan tokoh masyarakat Kecamatan Cisayong menggelar pertemuan silaturahmi bersama Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI) Kabupaten Tasikmalaya.
Kegiatan tersebut berlangsung di Pondok Pesantren (Ponpes) Yanfa, Desa Nusawangi, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Minggu (18/10/2026). Pertemuan ini menjadi momentum untuk membangun komunikasi, memperkuat sinergi, serta mencari solusi agar pelestarian budaya dan pengembangan sektor peternakan dapat berjalan beriringan dengan nilai-nilai agama dan norma yang berlaku di masyarakat.
Sejumlah unsur pemerintah, TNI-Polri, ulama, dan tokoh masyarakat turut hadir dalam kegiatan tersebut. Di antaranya Ketua MUI Kecamatan Cisayong KH. Jaja Jamaludin, Kapolsek Cisayong AKP Hasan Basri, SE, beserta jajaran, Camat Cisayong Sutaryo, ST, perwakilan Danramil 1207/Cisayong, Ketua HPDKI Kabupaten Tasikmalaya Asep Yuda beserta jajaran, serta para ulama dan tokoh masyarakat Kecamatan Cisayong.

Dalam sambutannya, Ketua HPDKI Kabupaten Tasikmalaya Asep Yuda menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas terselenggaranya silaturahmi tersebut. Ia menjelaskan, kehadiran HPDKI bertujuan menyampaikan program organisasi sekaligus membuka ruang komunikasi dan evaluasi terkait aktivitas PAC HPDKI di wilayah Cisayong.
“Atas nama organisasi, kami memohon maaf apabila selama ini ada hal-hal yang kurang berkenan dari pihak PAC HPDKI yang ada di Cisayong. Kami juga memohon arahan dan nasihat untuk kemajuan para peternak, khususnya di Kecamatan Cisayong dan umumnya di Kabupaten Tasikmalaya, agar ke depannya mereka bisa lebih sejahtera,” ujar Asep Yuda.
Menurutnya, dukungan dan masukan dari para ulama, tokoh masyarakat, serta unsur pemerintah sangat penting untuk membangun organisasi yang lebih baik. Dengan komunikasi yang terbuka, diharapkan pengembangan peternakan domba dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekaligus tetap memperhatikan kearifan lokal.
Sementara itu, Ketua MUI Kecamatan Cisayong KH. Jaja Jamaludin menyambut baik upaya pelestarian tradisi dan budaya yang berkembang di tengah masyarakat. Namun, ia menegaskan bahwa setiap kegiatan budaya harus tetap berpedoman pada norma agama dan nilai ketuhanan.
“Kami menyambut baik tradisi budaya, terlebih jika tujuannya untuk melestarikan warisan budaya. Yang terpenting, jangan sampai keluar dari norma-norma keagamaan dan tetap berpegang teguh pada nilai Ketuhanan Yang Maha Esa,” ungkapnya.
Ia menambahkan, selama pelaksanaan tradisi tidak bertentangan dengan aturan agama, ruang kolaborasi antara ulama, tokoh masyarakat, dan pelaku budaya perlu terus dibangun.
Baca Juga BKAD Bersama Komisi II DPRD Pangandaran Bahas Rancangan APBD 2027
“Selama tidak bertentangan dengan aturan agama, tentunya kami tidak menolak tradisi budaya. Intinya, mari kita berkolaborasi dan bersinergi untuk kebaikan bersama ke depannya,” jelas KH. Jaja Jamaludin.
Senada dengan hal tersebut, Kapolsek Cisayong AKP Hasan Basri, SE, menyampaikan dukungannya terhadap upaya pelestarian budaya lokal. Kendati demikian, ia menekankan pentingnya mencari alternatif kegiatan yang tetap mengangkat potensi domba Garut tanpa menimbulkan pertentangan dengan norma agama maupun ketertiban masyarakat.
Menurutnya, potensi domba Garut dapat dikembangkan melalui berbagai kegiatan positif, seperti ketangkasan menarik beban atau aktivitas lain yang dapat menjadi daya tarik sekaligus memberikan nilai tambah bagi para peternak.

“Kalau untuk di Cisayong, jangan sampai ada adu domba. Bisa diganti dengan potensi lain, seperti domba menarik beban atau kegiatan lainnya. Mari kita rumuskan bersama bagaimana ke depannya para peternak domba dapat lebih sejahtera tanpa melanggar norma adat dan norma agama,” ujarnya.
Pertemuan tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk merumuskan pola pembinaan dan pengembangan potensi domba Garut yang dapat diterima berbagai elemen masyarakat. Sinergi antara HPDKI, ulama, tokoh masyarakat, pemerintah, serta unsur TNI-Polri dinilai penting agar tradisi lokal tetap terjaga tanpa mengabaikan nilai keagamaan, ketertiban, dan kesejahteraan masyarakat.
Melalui komunikasi dan kerja sama yang berkelanjutan, pelestarian budaya diharapkan tidak hanya menjadi upaya menjaga warisan leluhur, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi peternak serta membuka peluang pengembangan potensi lokal di Kecamatan Cisayong dan Kabupaten Tasikmalaya secara lebih luas. (AD)
Baca Juga PSGC Ciamis Ditahan Imbang PSIS Semarang di Stadion Galuh
Analisa Global Cepat, Aktual dan Berimbang