Sosok Ma Eroh Wanita Pembelah Gunung
Kabupaten Tasikmalaya, analisaglobal.com — Ma Eroh atau Nyi Eroh adalah seorang perempuan petani dari kampung Pasirkadu, Desa Santanamekar, kecamatan Cisayong, kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Ma Eroh yang terkenal karena keberhasilannya memapras bukit cadas di lereng gunung Galunggung selama 40 hari, setiap hari hanya dengan bermodal alat belencong dan cangkul demi mengalirkan air menuju desanya yang kekeringan.
Dikutip dari wikipedia.org dan berbagai sumber lainnya, Adapun awal pembuatan saluran air dimulai selepas Gunung Galunggung meletus pada tahun 1982. Material letusan menutupi persawahan dan pengairan, sehingga Ma Eroh harus mencari alternatif mata pencaharian selain bertani.
Ma Eroh kala itu menjadi tulang punggung keluarga, karena suaminya sedang sakit sehingga tidak bisa berjalan. Ma Eroh menyambung hidup dengan berjualan singkong dan janur. Selain itu, Ma Eroh juga mencari jamur di hutan untuk kemudian dibarter dengan beras.
Karena saking seringnya masuk hutan, suatu hari Ma Eroh menemukan sumber air yang berasal dari air terjun Pasirlutung. Saat itu, Ma Eroh terpikirkan bagaimana membawa air itu ke kampungnya sehingga pertanian bisa kembali berjalan.
Ma Eroh Sempat Di Cibir Oleh Warga
Di usia 51 tahun (sumber lain mengatakan 45), Ma Eroh seorang diri memutuskan untuk memapras bukit cadas liat sepanjang 45 meter untuk mengalirkan air dari sungai Cilutung ke sawah seluas 400 meter persegi miliknya.
Baca Juga Polres Ciamis Laksanakan Pengamanan Kegiatan Lintas Budaya Nusantara Masyarakat Di Ciung Wanara
Perempuan yang hanya tamatan kelas 3 SD ini, memapras bukit cadas dengan kemiringan 60-90 derajat hanya bermodalkan belencong dan tali areuy (sejenis tali rotan). Walaupun pada mulanya warga setempat mencibir upaya Ma Eroh, tetapi setelah melihat hasil nyata paprasan yang dikerjakan selama 47 hari tanpa putus olehnya, sebanyak 19 warga desa turut membantu untuk memperpanjang saluran tersebut.
Dalam waktu 2,5 tahun (1985-1988) saluran sepanjang 4,5 kilometer yang mengitari 8 bukit itu berhasil diselesaikan. Hasil dari saluran irigasi ini tidak hanya mengairi desa Santanamekar, melainkan juga dua desa tetangga, yakni desa Indrajaya dan Sukaratu kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya.
Ma Eroh Dianugerahi Penghargaan Kalpataru Pada Tahun 1988
Setelah usahanya terdengar oleh Presiden Soeharto, Ma Eroh dianugerahi penghargaan Kalpataru pada tahun 1988 dan kemudian juga mendapatkan Penghargaan Lingkungan Hidup dari PBB pada tahun 1989.
Walaupun demikian, piala Kalpataru tidak pernah dimiliki Ma Eroh dan keluarganya karena disimpan oleh Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya. Semenjak mendapatkan penghargaan tersebut, Ma Eroh sering diundang pada acara peringatan Hari Lingkungan Hidup dan Hari Kartini yang diselenggarakan oleh pemerintah.
Tugu untuk memperingati jasa Ma Eroh pun dibangun di alun-alun Tasikmalaya, bersama dengan Abdul Rozak yang juga berjasa melakukan hal serupa. Namun sampai saat ini, jasa Ma Eroh seolah terlupakan, serta hasil karya Ma Eroh seolah-olah terabaikan.
Beliau dikabarkan wafat pada 18 Oktober 2004, jenazahnya dikuburkan tepat di samping rumahnya. Di makamnya terdapat pahatan bertuliskan ”Pahlawan Lingkungan Hidup Ma Eroh, Penerima Penghargaan Kalpataru dari Presiden RI Soeharto tahun 1988 dan Penghargaan Lingkungan Hidup dari Persatuan Bangsa-Bangsa tahun 1989.” (red)
Dikutip dari : wikipedia.org dan berbagai sumber lainnya.
Analisa Global Cepat, Aktual dan Berimbang