“Suara Tak Terpenjara”, Lapas Ciamis Buktikan Napi Bisa Berkarya dan Menginspirasi

Kabupaten Ciamis, analisaglobal.com — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Ciamis membuktikan bahwa tembok penjara tidak mampu membatasi kreativitas warga binaan. Melalui peluncuran karya musik bertajuk “Harmoni Tanpa Batas, Suara Tak Terpenjara”, para narapidana menunjukkan bahwa mereka tetap mampu berkarya, berprestasi, dan memberi inspirasi bagi masyarakat.

Kalapas Ciamis, Supriyanto, menegaskan bahwa lapas bukan tempat untuk mematikan masa depan seseorang, melainkan ruang pembinaan agar warga binaan mampu bangkit dan menjadi pribadi yang lebih baik.

“Hari ini menjadi bukti bahwa narapidana juga memiliki talenta luar biasa yang patut diapresiasi,” ujarnya. Senin (18/05/2026).

Dalam kegiatan tersebut, warga binaan berhasil menciptakan 10 lagu hanya dalam kurun waktu dua minggu. Prestasi itu bahkan mendapat perhatian dan apresiasi dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

Baca Juga SPPG Nusantara Pasang Standar Ketat Kebersihan Dapur, General Cleaning Rutin Jadi Tameng Cegah KLB Pangan

“Biasanya menciptakan lagu membutuhkan waktu satu sampai dua bulan. Tapi di sini, dalam dua minggu sudah lahir 10 lagu karya warga binaan,” ungkap Supriyanto.

Salah satu lagu yang menjadi perhatian berjudul Untuk Indonesia. Lagu tersebut mengangkat semangat cinta tanah air sekaligus menjadi simbol bahwa kreativitas tidak dapat dipenjara.

“Di lapas ternyata kreativitas tidak mati. Mereka tetap bisa berkarya, bersuara, dan didengar masyarakat. Ini membuktikan bahwa penjara bukan akhir dari segalanya,” tegasnya.

Selain pembinaan di bidang seni musik, Lapas Ciamis juga terus mengembangkan berbagai program kemandirian, mulai dari produksi roti, kerajinan, hingga pelatihan keterampilan lainnya yang bekerja sama dengan sejumlah instansi di Kabupaten Ciamis.

Menurut Supriyanto, seluruh program tersebut bertujuan agar warga binaan memiliki bekal keterampilan saat kembali ke tengah masyarakat. Ia pun mengajak masyarakat untuk mengubah stigma negatif terhadap lembaga pemasyarakatan.

“Penjara jangan dijadikan tempat untuk memberi cap buruk seumur hidup. Jadikan ini sebagai pembelajaran. Semua orang bisa berbuat salah, tetapi setiap orang juga berhak memperbaiki diri dan memiliki kesempatan untuk bangkit,” katanya.

Supriyanto berharap dukungan media dan masyarakat terus mengalir agar karya serta potensi warga binaan dapat dikenal lebih luas.

“Setelah keluar dari lapas, kami yakin mereka bisa kembali berkarya, berkembang, dan menjadi lebih baik dari sebelumnya,” pungkasnya. (Dods)

Baca Juga Tangis Syukur Pecah di Imbanagara, Rumah Reyot Engkus-Rukmi Kini Berdiri Layak Berkat Bantuan Bupati Herdiat

About analisaglobal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!