Kabupaten Ciamis, analisaglobal.com ā Kisah pilu datang dari Dusun Cipaku RT 02/09, Desa Sukamaju, Kecamatan Baregbeg, Kabupaten Ciamis. Tati, seorang ibu rumah tangga yang sekaligus penjual makanan ringan, harus berjalan kaki berkilo-kilometer setiap hari demi mendapatkan penghasilan tak lebih dari Rp. 30 ribu. Penghasilan itu ia gunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, termasuk biaya makan dan sekolah anaknya.
Tati mengungkapkan, sejak suaminya menganggur selama hampir delapan bulan, beban ekonomi keluarga semakin berat. Ia terpaksa berjualan keliling dari pagi hingga sore, meski hanya memperoleh sedikit hasil. āKalau lagi sepi, kadang cuma dapat dua puluh ribu. Tapi tetap saya jalani, demi anak,ā ungkapnya lirih.
Yang lebih menyayat hati, anaknya, Dita, siswi kelas 4 SD, kini tidak selalu bisa berangkat sekolah. Hal ini terjadi setelah Dita mengalami kecelakaan tertabrak motor. Sejak itu, Tati tidak tega membiarkan anaknya berangkat sendiri. Sering kali Dita harus ikut berjualan karena tidak ada ongkos ojek Rp5 ribu untuk ke sekolah. āKalau ada uang, saya antar naik ojek. Tapi kalau enggak ada, ya dia ikut saya jualan,ā kata Tati.
Tati mengaku, dirinya sempat menerima bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) saat Dita duduk di kelas 1 dan 3. Namun sejak anaknya kelas 4, bantuan tersebut belum juga cair. Bantuan lainnya seperti PKH, BPNT, maupun Bansos juga belum pernah ia rasakan.
Baca JugaĀ Polisi Amankan Pelaku Pencurian Kertas Suara Bekas di Gudang KPU, Kerugian Capai Rp. 100 Juta
Saat dikonfirmasi, Kasi Pelayanan Desa Sukamaju, Hasan Nusadad, S.IP menjelaskan bahwa dalam sistem Aplikasi Cek Bansos milik Kemensos, Tati tercatat berada dalam Desil 1 kategori paling layak menerima bantuan. Namun, proses pencairan bantuan terkendala karena status “burekol” atau pembukaan rekening kolektif yang belum selesai. Selasa (29/07/2025).
Analisa Global Cepat, Aktual dan Berimbang