Tidak Ada Perhatian Pemerintah, Pengrajin Kerai Lampit di Cigalontang Mulai Terlupakan

Selamat pagi /siang/sore/malam pembaca setia analisaglobal.com, semoga semua pembaca dalam keadaan sehat, penuh kebahagiaan, dan bersemangat dalam beraktifitas serta sehat selalu.

Jangan lupa ya tetap pakai masker saat bepergian, rutin mencuci tangan dan menjaga jarak karena Pandemi Covid-19 belum berakhir. Berikut kami sajikan berita terpopuler di analisaglobal.com

Kabupaten Tasikmalaya, analisaglobal.com — Menggugah kembali pengrajin kerai lampit yang masih tetap bertahan di era modernisasi, yang mungkin sebagian kalangan anak muda sekarang kerai lampit Nipah banyak yang tidak tahu, ternyata pengrajin kerai lampit yang berada di kampung Bantardahu Desa Nangerang Kecamatan Cigalontang Kabupaten Tasikmalaya sudah turun temurun sejak zaman dulu sampai sekarang. Minggu (31/01/2021)

Saat di wawancarai analisaglobal.com, menurut Rojak Abdul Rojak sebagai pengrajin samak lampit kerai Nipah generasi ke 3 dari bah Eman (almarhum) menuturkan Kerajinan ini merupakan kerajinan turun temurun dari nenek moyang dulu, namun karena sekarang sudah modern jadi sudah bisa direka dengan berbagai jenis motif. Itu kan namanya juga ada yang menggunakan tambang, ijuk, ada juga yang menggunakan bahan lainnya. Ucapnya

“Untuk masalah corak juga ada corak bakar polos ada juga yang tirai kecil jadi saat ini tidak hanya Lampit saja, namun juga bisa digunakan untuk hiasan dinding. Dengan demikian saat ini serbaguna dan banyak coraknya. Sejak dari dulu hampir semua warga masyarakat kampung Bantardahu desa Nangerang kecamatan cigalontang kabupaten Tasikmalaya sebagai pengrajin kerai lampit dengan permodalan sendiri tanpa ada bantuan pemerintah setempat.” Ungkapnya

Lanjut Rojak menuturkan, Sekitar tahun 1984 pernah dibuat kelompok pengrajin kerai lampit namanya, Kelompok SAMI ASIH, pembinaan PAPERTAS (Persatuan Pengrajin Tasik) sebagai penyalur penjualan bahkan pemesanan penjualan bisa impor ke mancanegara yakni America, Afrika, Kanada, Jepang itu sekitar tahun 2005. Tetapi Setelah PAPERTAS pakum pemesan kurang Bahan kurang dan utamanya kurang permodalan juga. Pengrajin yang masih aktif sekarang tinggal 8 pengrajin banyak beralih profesi buka pangkas rambut di luar kota. tuturnya

“Bahkan sekitar tahun 1990 kelompok pengrajin samak kirai lampit kampung Bantardahu desa Nangerang kecamatan Cigalontang pernah kedatangan dari 33 negara hanya untuk melihat cara bikin atau membuat kirai lampit.” Jelasnya

Adapun untuk masalah harga mulai dari Rp. 25 ribu hingga Rp. 300 ribu. Sementara ini pesanan untuk ke Karawang, Jakarta dan ke Bali. Harapannya bisa jual ke luar negeri lagi. harapnya

Rojak juga menerangkan, untuk bahan baku kerai Nipah dikirim dari daerah Salawu, Ciwarak, sebenarnya dikampung sendiri juga ada tapi masih kurang bahan bakunya makanya dikirim, kadang – kadang kita cari ke daerah lain ke Parigi, Karangnunggal. terangnya

“Dimasa Pandemi Covid-19 sangat terasa kendalanya, dari mulai penjualan, mencari bahan baku, karena terkendala dengan permodalan, soalnya dari dulu sampai sekarang hanya bermodalkan sendiri tanpa sentuhan bantuan pemerintah setempat.” Pungkasnya***Day

About analisaglobal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!