Kabupaten Ciamis, analisaglobal.com — Kericuhan suporter yang mewarnai pertandingan PSGC Ciamis kontra PSIS Semarang pada 17 Oktober 2026 berbuntut sanksi tegas dari Komite Disiplin (Komdis). PSGC Ciamis dijatuhi total denda Rp35 juta serta larangan kehadiran suporter dalam satu pertandingan tandang akibat sejumlah pelanggaran yang terjadi selama dan setelah laga Championship 2026/2027 tersebut.
Dilansir dari Liputan6.com, Direktur Utama I.League, Ferry Paulus, menjelaskan bahwa sanksi dijatuhkan kepada kedua klub sebagai konsekuensi atas insiden yang mengganggu ketertiban pertandingan.
PSGC Ciamis dikenai denda Rp20 juta atas pelanggaran terkait tanggung jawab menjaga ketertiban yang mengakibatkan bus PSIS Semarang tertahan di stadion selama sekitar 30 menit.
Tak hanya itu, PSGC juga menerima sanksi tambahan berupa larangan kehadiran suporter dalam satu pertandingan tandang dan denda Rp15 juta terkait keributan antara suporter kedua tim, baik saat pertandingan berlangsung maupun setelah laga berakhir.
Sementara itu, PSIS Semarang turut dijatuhi sanksi berupa larangan kehadiran suporter dalam enam pertandingan tandang dan denda Rp15 juta atas insiden kericuhan yang sama.
Keputusan tersebut menjadi peringatan keras bagi kedua klub bahwa aspek keamanan dan ketertiban tidak boleh diabaikan dalam penyelenggaraan kompetisi. Tanggung jawab menjaga situasi tetap kondusif bukan hanya berada di tangan penyelenggara, tetapi juga menjadi kewajiban klub dan kelompok suporter.
Baca Juga PLN Tasikmalaya Siaga Kelistrikan Hari Jadi Kota Tasikmalaya, Wujudkan Semangat Sumpah Pemuda
Ferry Paulus menegaskan, pengumuman sanksi kepada publik merupakan bagian dari evaluasi terhadap kebijakan yang kembali membuka akses bagi suporter untuk menghadiri pertandingan tandang setelah pembatasan selama hampir tiga tahun.
“Kenapa ini perlu kami sampaikan ke publik? Karena kami mendorong larangan suporter away itu hampir tiga tahun lamanya,” ujar Ferry.
Ia menjelaskan, kebijakan kehadiran suporter tandang telah melalui pertimbangan bersama PSSI dan kepolisian. Namun, kebijakan tersebut bukan berarti seluruh pertandingan dapat dihadiri suporter tim tamu tanpa mempertimbangkan risiko keamanan.
Menurut Ferry, tingkat rivalitas antarklub, potensi bentrokan, serta rekomendasi kepolisian menjadi faktor penting dalam menentukan izin kehadiran suporter tandang.
“Beberapa klub yang mengalami rivalitas atau punya potensi terjadinya keributan dan kerusuhan, itu menjadi pertimbangan utama. Rekomendasi dari kepolisian menjadi landasan penting,” tegasnya.
I.League bersama PSSI dan kepolisian akan terus mengevaluasi penerapan kebijakan tersebut. Apabila pelanggaran keamanan terus berulang, sanksi yang lebih berat dapat menjadi pertimbangan.
Insiden PSGC Ciamis kontra PSIS Semarang menjadi pengingat bahwa rivalitas sepak bola tidak boleh berubah menjadi aksi yang mengganggu keamanan dan ketertiban. Klub harus memastikan dukungan suporter tidak berujung pada kerugian bagi tim sendiri maupun pihak lawan.
Penegakan disiplin dan pengawasan yang konsisten menjadi kunci agar kompetisi Championship 2026/2027 berlangsung aman, tertib, dan menjunjung tinggi sportivitas. Dukungan suporter seharusnya menjadi kekuatan bagi tim, bukan justru menjadi sumber persoalan yang berujung sanksi. (Dods)
Baca Juga Cegah Risiko Keamanan Pangan, SPPG Nusantara Werasari Tegaskan Disiplin SOP MBG
Analisa Global Cepat, Aktual dan Berimbang