Selamat pagi /siang/sore/malam pembaca setia analisaglobal.com, semoga semua pembaca dalam keadaan sehat, penuh kebahagiaan, dan bersemangat dalam beraktifitas serta sehat selalu.
Jangan lupa ya tetap pakai masker saat bepergian, rutin mencuci tangan dan menjaga jarak karena Pandemi Covid-19 belum berakhir. Berikut kami sajikan berita terpopuler di analisaglobal.com
Kabupaten Tasikmalaya, analisaglobal.com,– Nama perkebunan teh ACD yang berada di wilayah Taraju memang sudah tidak asing lagi bagi warga tasikmalaya maupun luar tasikmalaya, pemandangan yang sangat menarik bagi mereka yang hobi berwisata udara yang masih bersahabat di tambah sebagian area perkebunan milik rakyat sekarang ditata oleh warga dijadikan lahan wisata seperti wisata bukit Cisanta Desa Banyuasih Kecamatan Taraju juga gunung luhur langit nur alam dan di bojong gambir dengan wisata Gunung Demang nya hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelancong.
Para pemetik teh yang terdiri dari ibu-ibu yang terkadang terlupakan oleh para wisatawan padahal keberadaan para pemetik teh merupakan bagian dari keberlangsungan dan bertahannya keindahan perkebunan teh tersebut. Seperti nenek ikah 70 tahun penduduk setempat yang hampir 50 tahun menjadi buruh harian sebagai pemetik teh di PT Sinar Inesko Taraju ,menurutnya saat masih kecil dirinya (nenek ikah) sudah di ajak orang tuanya untuk membantu memetik teh di perkebunan tersebut.
Nenek ikah beserta pemetik lainya menuturkan bahwa menjadi buruh pemetik teh merupakan sebuah pekerjaan yang sudah turun-temurun. di tanya tentang upah nenek ikah menerangkan, dirinya mulai Bekerja dari pukul 08.00 pagi sampai 14.00 dengan upah sebesar 850 rupiah per kilo itupun dibayar sebulan sekali. setiap bulannya hasil memetik sekitar 8 kwintal atau lebih tergantung dari rajinnya bekerja. tuturnya. Selasa (16/03/21).
“Suka duka kami dalam bekerja sebagai pemetik terkadang kehujanan ketika berada di tengah area perkebunan atau bertemu dengan binatang liar sepeti ular dan tawon, akan tetapi saya tetap merasa bersyukur di musim pendemi seperti sekarang kami tetap bisa menjalankan pekerjaan kami sebagai pemetik daun teh dan Dengan upah lancar”. ungkap nenek Ikah.
Dilain pihak Widodo selaku kepala Administrasi PT Sinar Inesko menjelaskan bahwa untuk masalah produksi sampai saat ini belum begitu terpengaruh dengan adanya covid-19, serta tidak ada karyawan yang di PHK. Jumlah karyawan kami sebanyak 50 orang dan buruh harian pemetik sebanyak 80 orang masih bekerja dengan normal dengan menerapkan protokol kesehatan. jelasnya.
“kami pihak perusahaan sangat menghargai para pekerja lapangan baik mandor ataupun pemetik karena dengan luas lahan 7200 hektar lebih mereka tidak pernah mengeluh. Dengan semangat kebersamaan Alhamdulilah PT Inesko masih bertahan meskipun di musim pandemi seperti sekarang”. imbuh Widodo***YM
Analisa Global Cepat, Aktual dan Berimbang