Bandung, analisaglobal.com – Universitas Langlangbuana (UNLA) kembali menegaskan komitmennya terhadap pelestarian lingkungan melalui peresmian kawasan pengolahan sampah berteknologi N50 Turbocyclon KRAS-01, bertepatan dengan rangkaian peringatan Dies Natalis ke-44 serta Upacara Pengukuhan dua Guru Besar, Senin (27/04/2026).
Momentum bersejarah tersebut menjadi simbol sinergi antara kemajuan akademik dan kepedulian terhadap lingkungan. Dua Guru Besar yang dikukuhkan yakni Prof. Dr. H. Awan Setiawan, S.Kom., MT., IPM. dan Prof. Dr. Nita Kanya, S.E., M.N..

Rektor UNLA, Irjen Pol (Purn) Dr. A. Kamil Razak, S.H., M.H., meresmikan langsung fasilitas pengolahan sampah tersebut sebagai solusi nyata dalam menangani persoalan sampah secara mandiri dari sumbernya, khususnya di lingkungan kampus.
Dalam implementasinya, UNLA tetap mengedepankan prinsip pemilahan sampah sejak awal. Sampah anorganik bernilai ekonomis seperti botol plastik, kemasan PET, logam, dan kertas dipisahkan untuk didaur ulang, sementara hanya sampah residu yang tidak dapat dimanfaatkan kembali yang masuk ke proses termal mesin Turbocyclon. Langkah ini dinilai sejalan dengan konsep ekonomi sirkular dan pengelolaan sampah modern.
Keunggulan lain dari teknologi N50 Turbocyclon KRAS-01 adalah sistem pengawasan suhu berbasis Internet of Things (IoT) yang mampu memantau ruang bakar secara real-time pada kisaran 800 hingga 1200 derajat Celsius. Stabilitas suhu tinggi tersebut memastikan tidak terbentuknya zat berbahaya seperti dioksin dan furan yang kerap menjadi kekhawatiran dalam proses pembakaran sampah.
Prof. Dr. H. Awan Setiawan, S.Kom., MT., IPM. menegaskan filosofi utama teknologi tersebut, yakni “Sampah hari ini habis hari ini, dan sampah harus habis di sumbernya.”
“Visi kita adalah kemandirian. Sampah harus diselesaikan di sumbernya agar tidak menjadi warisan beban bagi masa depan. Dengan niat baik dan air bersih, teknologi ini membuktikan bahwa residu sampah bisa tuntas tanpa bergantung pada bahan bakar fosil,” tegasnya.
Fasilitas pengolahan sampah ini merupakan hasil kolaborasi antara LPPM Universitas Langlangbuana dengan PT. New Energy Integrasi. Perwakilan perusahaan, Ir. Mohamad Budi Fauzi, menjelaskan bahwa unit N50 telah dioptimalkan dengan kapasitas 50 kilogram per jam dan mampu menekan residu akhir hingga hanya 0,3 persen.

Menurutnya, hal tersebut menjadikan teknologi ini sebagai salah satu solusi pengolahan residu paling efisien dan transparan secara data.
Rektor UNLA berharap kawasan pengolahan sampah ini dapat menjadi laboratorium hidup bagi seluruh civitas akademika. Kehadiran fasilitas tersebut menjadi bukti bahwa pengukuhan Guru Besar di UNLA bukan hanya seremoni akademik, tetapi juga melahirkan inovasi nyata yang memadukan kecerdasan riset, keberlanjutan lingkungan, dan teknologi masa depan. (Red)
Sumber : Prof. Dr. H. Awan Setiawan, S.Kom., MT., IPM.
Baca Juga FEB UNLA Sosialisasikan Pengembangan SDM Dalam Pemasaran Digital Pada Pengusaha Tanaman Hias
Analisa Global Cepat, Aktual dan Berimbang