Jelang Ramadhan 1447 H, TPU Cinehel Dipadati Peziarah, Tradisi Nyekar Hidupkan Ekonomi Warga Sekitar

Kota Tasikmalaya, analisaglobal.com – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 1447 H/2026 M, suasana di TPU Cinehel tampak lebih ramai dari hari biasanya. Ratusan peziarah memadati area pemakaman untuk melaksanakan tradisi nyekar, mendoakan serta membersihkan makam keluarga sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua dan leluhur.

Tradisi ziarah kubur menjelang Ramadhan telah menjadi kebiasaan tahunan masyarakat Tasikmalaya. Momentum ini bukan sekadar ritual spiritual, tetapi juga menjadi refleksi diri dalam menyambut bulan penuh ampunan.

Elis Rahmawati, salah seorang peziarah yang ditemui di lokasi, menegaskan pentingnya memprioritaskan ziarah ke makam orang tua sebelum mengunjungi makam leluhur atau tokoh agama.

“Ziarah ke makam orangtua. Kalau mau menjelang bulan puasa kita kan harus ziarah. Kan banyak yang ziarah ke luar, seperti ke makam para leluhur, masak orangtua yang dekat tidak diziarahi. Yang penting nomorsatukan orangtua dulu. Sudah biasa setiap tahun begini, nanti juga mau lebaran begini juga,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa penghormatan kepada orang tua menjadi nilai utama dalam tradisi tersebut. “Dulu makam orang tua dulu, baru makam leluhur. Begitu juga dengan ziarah, orang tua lebih utama. Ziarah ke makam para wali bisa setelah itu,” tambahnya.

Baca Juga Di Balik Program MBG Kiarajangkung, Komplain Sajian Menu dan Status Izin Jadi Sorotan

Berdasarkan pantauan di lapangan, jumlah peziarah meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan hari biasa. Tak hanya warga dalam kota, sejumlah pengunjung juga datang dari luar daerah Tasikmalaya. Ramainya aktivitas ini membawa berkah tersendiri bagi masyarakat sekitar.

Pedagang bunga tabur, makanan, hingga jasa kebersihan makam merasakan peningkatan pendapatan yang signifikan. Seorang pedagang bunga yang enggan disebutkan namanya mengaku mampu meraup keuntungan antara Rp150 ribu hingga Rp300 ribu per hari selama momen jelang Ramadhan.

“Ya kalau laku lumayanlah jualan kembang ini, ada keuntungannya. Belum tentu kalau di rumah, Rp20 ribu juga belum tentu dapat,” ungkapnya.

Selain tradisi nyekar, sebagian masyarakat juga menggelar munggahan atau makan bersama keluarga sebagai bentuk rasa syukur dan persiapan menyambut Ramadhan. Tradisi-tradisi ini menjadi warisan budaya yang terus dijaga, tidak hanya mempererat tali silaturahmi, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap perputaran ekonomi lokal.

Momentum jelang Ramadhan di TPU Cinehel menjadi gambaran bagaimana nilai spiritual dan sosial berjalan beriringan dengan dinamika ekonomi masyarakat. (Roni R)

Baca Juga Sie Humas Polres Pangandaran Raih Juara 3 Kategori Amplifikasi Pemberitaan Media Online Polda Jabar

About analisaglobal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!