KH. Lutfi Fauzi: Puasa Bukan Sekadar Menahan Lapar, Tapi Menjadi Jalan Menuju Ketaqwaan

Pangandaran, analisaglobal.com – Puasa bukan hanya soal menahan lapar dan haus, melainkan latihan menyeluruh bagi hati, lisan, serta pengendalian diri. Hal itu disampaikan oleh KH. Lutfi Fauzi, pimpinan Pondok Pesantren Riyadussalikin, dalam tausyahnya mengenai makna esensi puasa sebagai jalan menuju ketakwaan.

Mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 183, ia menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa. Menurutnya, masih banyak orang yang merasa telah berpuasa, padahal baru sebatas menggugurkan kewajiban.

“Kalau hanya menahan lapar, itu diet namanya. Puasa itu menahan diri dari segala yang bisa mengurangi pahala,” tuturnya.

Kalimat tersebut langsung menjadi perhatian jamaah. Ia menekankan bahwa inti puasa tidak terletak pada perut semata, tetapi pada kemampuan mengendalikan diri dari hal-hal yang bisa menggerus nilai ibadah.

KH. Lutfi Fauzi juga mengingatkan agar umat tidak membiarkan puasa mengalami “bocor halus”, yakni kebocoran pahala yang sering kali tidak disadari. Contohnya, masih gemar bergosip, mudah tersulut emosi, hingga mencela orang lain.

Baca Juga Hari ke 2 Ramadhan, DPC PWRI Kabupaten Tasikmalaya Tebar Kepedulian Dengan Berbagi Takjil

“Percuma lapar seharian kalau mulut masih tajam. Percuma haus kalau hati masih panas,” ujarnya.

Menurutnya, puasa sejatinya harus melahirkan pribadi yang lebih sabar, lembut, dan peka terhadap sesama. Ramadan menjadi momentum memperbaiki kualitas diri, bukan sekadar rutinitas tahunan.

Dalam tausyah tersebut, ia juga membagikan beberapa tips agar puasa lebih maksimal, di antaranya menjaga lisan sejak subuh, memperbaiki niat setiap hari, serta memperbanyak amal secara diam-diam agar terhindar dari riya.

Ia mengingatkan agar umat tidak menjadikan Ramadan sebagai ajang pencitraan di media sosial. “Yang dinilai Allah itu hati, bukan unggahan,” imbuhnya.

Pesan tersebut menjadi refleksi di tengah maraknya budaya membagikan aktivitas ibadah secara terbuka. Baginya, jika puasa dijalankan dengan benar, hati akan menjadi lebih lembut dan hidup terasa lebih tenang.

Nasihat pimpinan Ponpes Riyadussalikin itu menjadi pengingat bahwa Ramadan bukan hanya tentang menunggu azan magrib, melainkan tentang bagaimana setiap Muslim keluar dari bulan suci dalam keadaan lebih baik dari sebelumnya. (driez)

Baca Juga 7 SPPG di Kecamatan Cisayong Gelar Sosialisasi dan Simulasi Kebakaran Bersama Damkar

About analisaglobal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!