Milangkala ke-9 Sunda Ngahiji di Situ Cibeureum, Tradisi Ngertakeun Cai Satukan Mata Air Priangan Timur

Kota Tasikmalaya, analisaglobal.com – Dalam upaya menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur, Yayasan Sunda Ngahiji kembali menggelar perayaan Milangkala ke-9 dengan mengusung semangat “Ngertakeun Cai, Merawat Tradisi, Menghidupkan Budaya”. Kegiatan tersebut berlangsung pada Minggu (8/11/2026), mulai pukul 07.00 WIB hingga selesai, bertempat di kawasan wisata Situ Cibeureum, Kota Tasikmalaya.

Seperti perayaan milangkala pada tahun-tahun sebelumnya, Yayasan Sunda Ngahiji secara konsisten menjadikan momentum hari jadinya sebagai ruang untuk memperkenalkan, merawat, sekaligus menghidupkan kembali nilai-nilai budaya Sunda agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

Salah satu tradisi yang menjadi bagian utama dalam kegiatan tersebut adalah ritual budaya Ngertakeun Cai, yakni prosesi mempertemukan air yang berasal dari sembilan hingga 33 sumber mata air yang tersebar di wilayah Priangan Timur dan tatar Sunda.

Prosesi tersebut menjadi simbol rasa syukur atas anugerah sumber mata air sebagai sumber kehidupan. Air dari berbagai mata air itu kemudian disatukan dan ditebarkan ke kawasan Situ Cibeureum sebagai bentuk penghormatan terhadap alam sekaligus pengingat pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

Tidak hanya menghadirkan tradisi Ngertakeun Cai, perayaan Milangkala ke-9 Yayasan Sunda Ngahiji juga dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan seni dan budaya tradisional Sunda.

Baca Juga Dukung Program MBG Presiden Prabowo, Mitra Ciamis Minta BGN Evaluasi Juknis

Sejumlah kesenian yang ditampilkan di antaranya pencak silat, debus, lais, serta beragam pertunjukan seni tradisional lainnya yang menjadi bagian dari kekayaan budaya masyarakat Sunda.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Yayasan Sunda Ngahiji berupaya memberikan ruang bagi para pelaku seni dan budaya untuk terus berkarya, sekaligus mengenalkan tradisi leluhur kepada generasi muda agar tidak tergerus oleh perubahan zaman.

Kegiatan yang dipusatkan di kawasan Situ Cibeureum ini juga menjadi momentum mempererat tali silaturahmi antarpelaku budaya, komunitas, serta masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian adat dan tradisi Sunda.

Semangat Ngertakeun Cai bukan sekadar menyatukan air dari berbagai sumber mata air, melainkan juga mengandung pesan filosofis tentang kebersamaan, rasa syukur, serta tanggung jawab manusia dalam menjaga alam sebagai sumber kehidupan.

Dengan memasuki usia ke-9, Yayasan Sunda Ngahiji diharapkan terus konsisten menjadi wadah pelestarian budaya, menjaga identitas kesundaan, serta mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi penerus. (Tatang Hidayat)

Baca Juga Kuota Relawan SPPG Dibatasi, Serikat MBG Desak BGN Evaluasi Aturan Baru

About analisaglobal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!